Tuesday, June 1, 2010

PANTASKAH HUKUMAN MATI BUAT KORUPTOR?

Apa hukuman yang sesuai menurut anda bagi seorang koruptor?
Banyak pendapat beredar di masyarakat bahwa hukuman yang pantas bagi koruptor adalah hukuman mati. Lalu karena itu saya merasa tergugah menuliskan pendapat saya di halaman ini.
Menurut saya, hukuman mati bagi tersangka koruptor terlalu berat. Dan hukuman penjara bagi yang melakukan korupsi juga terlalu ringan. Alasan saya mengatakan hukuman mati terlalu berat adalah karena terlalu banyak orang yang dirugikan. Misalnya sebagai contoh bila sia A melakukan korupsi. Tertangkap dan akhirnya dijatuhi hukuman mati. Cerita keduniaan pada koruptor ini akan selesai dan tak akan berulang lagi. Tapi apa yang akan terjadi bagi keluarganya dan anak anaknya. Karena hukuman mati yang dijatuhkan ini, sama saja mengambil si ayah dari pelukan anaknya bila ekskusi telah dilakukan. Biaya sekolah yang dulunya mengalir, akan tertenti karena sang ayah atau sipelaku korupsi telah pergi ke tempat yang tiada akan pulang lagi. Bagaimana nasib anaknya yang ditinggalkan. Kenapa si anak sampai sampai berhenti mempunyai ayah, padahal ayahnya yang melakukan korupsi. Bagaimana pula nasib si istri. Alangkah menyedihkannya. Alangkah banyaknya manusia yang dirugikan. Karena itu saya berpendapat bahwa hukuman yang pantas bagi pelaku korupsi adalah hukuman potong tangan. Jika si koruptor yang diekskusi hanya mendapat hukuman potong tangan, berarti si anak masih bisa bersama ayahnya. Si istripun masih bisa bersama suaminya walau tangannya sudah dipotong yang sebelahnya. Tulisan ini kuposting hanya bermaksud mengkomentari rancangan hukuman mati yang sering dibicarakan di media massa. Tapi itu semua tergantung keinginan kita bersama selaku rakyat bersatu Indonesia. Pembahasan dan pembahasan tentu akan menghasilkan keputusan. Tapi saya sebagai blogger Sumatera Utara telah mengungkapkan pendapatnya di halaman ini. Semoga solusi dari semua yang dirancang rakyat Indonesia akan didapatkan. Semoga negara kita aman damai dan terbebas dari korupsi dan juga kolusi serta nepotisme.

No comments: